Ketika
bayi menangis di tengah malam seorang ibu akan bingung memilih membiarkannya
atau buru-buru menghiburnya. Pilihan pertamalah yang sebaiknya dilakukan
orangtua, yakni membiarkan bayi menangis. Cara pengasuhan ini bukan berarti
buruk, tapi ini lebih ke arah psikologi.
Memang,
bayi bangun nocturnal merupakan kekhawatiran yang paling umum yang dilaporkan
orangtua ke dokter anaknya ketika bayi baru lahir. Profesor Marsha Weinraub,
pakar hubungan dari Temple University di Philadelphia, mengatakan, cara
yang terbaik adalah membiarkan bayi menangis karena nantinya bayi bisa
menenangkan diri sendiri dan kembali tertidur dengan sendirinya. Penelitian ini
dipublikasikan di Developmental Psychology seperti dikutip Dailymail,
Jumat (4/1/2013).
Dalam
penelitian itu disebutkan, semua bayi bangun di malam hari. Tapi hanya beberapa
yang menangis. Jika orangtua selalu bangun untuk menghibur bayinya yang
menangis, orangtua bisa mendorong ketergantungan anak dengan intervensi di
tengah malam. "Jika Anda mengukur mereka saat mereka sedang tidur, semua
bayi seperti semua orang dewasa yang bergerak melalui siklus tidur setiap 1,5
sampai 2 jam, mereka bangun dan kemudian kembali tidur," katanya.
"Beberapa
dari mereka menangis dan memanggil ketika terbangun dan itu disebut 'tidak tidur
sepanjang malam'," jelasnya. Penelitian ini menanyakan orangtua dari lebih
dari 1.200 bayi, untuk melaporkan anak yang terbangun pada 6, 15, 24 dan 36
bulan. "Saran terbaik adalah menempatkan bayi di kasur dengan waktu yang
teratur setiap malam, ini memungkinkan mereka jatuh tertidur dengan
sendirinya".
Hasil
penelitian itu menemukan dua grup, tukang tidur dan tidur transisi. Saat bayi
berusia 6 bulan, 66 persen bayi senang tidur, tidak terbangun, atau terbangun
hanya sekali per minggu. Tapi 33 persen bangun tujuh malam per minggu dalam
enam bulan, turun menjadi dua malam saat 15 bulan dan satu malam per minggu
pada 24 bulan. Dan bayi yang terbangun sebagian besar adalah anak laki-laki.
Ibu
yang bayinya tidak tidur biasanya cenderung yang menyusui dan depresi. Ia
menambahkan, hubungan antara ibu yang tertekan dan bayi yang bangun menjadi
bidang lain yang bisa dipetik manfaatnya dengan penelitian lebih lanjut.
"Keluarga yang menemukan masalah tidur yang bertahan melewati 18 bulan
harus meminta saran," tambah Profesor Weinraub.
Selain
itu, penting bagi bayi untuk belajar tidur sendiri. "Ketika ibu terbangun
di malam hari atau bayinya mempunyai kebiasaan tertidur selama menyusui, maka
ia tidak dapat belajar menenangkan diri, ini sangat oenting untuk bisa tidur
teratur". Satu teori adalah, ibu yang mengalami depresi pada 6 dan 36
bulan mungkin tertekan selama kehamian dan depresi prenatal bisa mempengaruhi
perkembangan saraf bayi dan tidur terbangun. Tapi yang terpenting menyadari
kurang tidur memperburuk depresi ibu. "Karena ibu dalam penelitian kami
menggambarkan bayi yang sering terbangun per minggu menciptakan masalah bagi
diri mereka sendiri dan anggota keluarga lainnya".(MEL/IGW)
Sumber
: health.liputan6.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar